Imran bin Husain merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran,
sifat zuhud dan kesalehan serta mati-matian dalam mencintai ALLAH dan
mentaati-Nya. Walaupun ia beroleh taufik dan petunjuk ALLAH yang tidak terkira,
tetapi ia sering mengangis mencucurkan air mata, ratapnya “Wahai, kenapa saya
tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja...!”
Di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, ‘Imran dikirim
oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka
mendalami Agama. Demikianlah di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka demi
dikenal oleh penduduk, merekapun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru
teladan ketakwaannya.
Berkata hasan Basri dan Ibnu Sirin, “Tidak seorang pun di antara
sahabat-sahabat Rasul yang dating ke Bashrah, lebih utama dari ‘Imran bin
Husain...!”
Dalam beribadat dan hubungannya dengan ALLAH, ‘Imran tak sudi
diganggu oleh sesuatu pun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam
dalam ibadat, hinga seakan-akan ia bukan penduduk bumi yang didiaminya ini
lagi...! Sungguh, seolah-olah ia adalah Malaikat, yang hidup di lingkungan
Malaikat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya.
Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di antara Kaum Muslimin,
yaitu golongan Ali dan Mu’awiyah, tidak saja ‘imran bersikap tidak memihak,
bahkan juga ia meneriakkan kepada ummat agar tidak campur tangandalam perang tersebut,
dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya.
Katanya pada mereka, “Aku lebih suka menjadi pengembala rusa di puncak bukit
sampai saya meninggal, daripada melepas anak panah kepada salah satu pihak,
biar meleset atau tidak...!”
Dan kepada orang-orang Islam yang ditemuinya, diamanatkannya,
“Tetaplah tinggal di mesjidmu...! Dan jika ada yang memasuki masjidmu,
tinggallah di rumahmu...! Dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta
atau nyawamu, maka bunuhlah dia...!”
Keimana Imran bin Husain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia
mengidap suatu penyakit yang sesalu menganggu selama 30 tahun, tidak pernah ia
merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya,
baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring
Dan ketika para sahabat dan orang-orang yang menjenguknya datang dan
menghibur hatinya terhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil ujarnya,
“Sesungguhnya barang paling kusukai, ialah apa yang paling disukai ALLAH...!”
Dan sewaktu ia hendak meninggal, wasiatnya kepada kaum kerabatnya dan para
sahabatnya, ialah: “jika kalian, telah kembali dari pemakamanku, maka
sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan...!”
Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan mengadakan
jamuan! Karena kematian seorang Mu’min seperti ‘Imran bin Husain bukanlah
merupakan kematian yang sesungguhnya! Itutidak lain dari pesta besar dan mulia,
di mana suatu ruh yang tinggi yang ridha dan dirilai-Nya diarak ke dalam surga,
yang besarnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang
takwa.
Sumber: Buku “101 SAHABAT NABI”_Hepi Andi Bastoni
Sumber: Buku “101 SAHABAT NABI”_Hepi Andi Bastoni
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon